Punya Kiriman Paket Besar, Ada Layanan Kargo Pos Ritel Darat PT Pos Indonesia yang Bertarif Ekonomis


Setelah kerjasama Tokopedia dan jasa pengiriman REX menghadirkan layanan cargo REX-10, sekarang giliran PT Pos Indonesia. Di awal Agustus 2017, PT Pos membuat terobosan baru dalam layanan untuk pelanggannya. Perseroan pelat merah ini meluncurkan produk kargo pos ritel darat di Kantor Pos Jakarta. Produk terbaru ini kian menunjukkan komitmen perusahaan kurir terbesar di Indonesia itu dalam melakukan transformasi bisnis.

Kargo pos ritel darat PT Pos.
Peluncuran layanan kargo pos ritel darat PT Pos (via Mediaindonesia.com)

Produk terbaru ini kian menunjukkan komitmen perusahaan kurir terbesar di Indonesia itu dalam melakukan transformasi bisnis.

Menurut Barkah Hadimoeljono, Direktur Integrasi Logistik PT Pos Indonesia, alasan dibalik peluncuran layanan kargo pos darat ini agar biaya logistik lebih efisien.

"Kami ingin biaya logistik lebih efesien supaya masyakat bisa mendapat harga kompetitif. Inilah maksud layanan kargo pos darat," ujarnya seperti dilansir situs Jawapos.com.

Selain di Jakarta, peluncuran kargo pos ritel darat juga berlangsung di Kantor Pos Surabaya Utara, Jawa Timur.

Untuk tahap awal Kargo Pos akan menyasar 20 kantor pos di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Target yang ingin dicapai adalah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan pelaku bisnis yang akan mengirimkan barang atau produk ritel lainnya dalam partai besar atau bulky.

Dengan tagline Murah-Mudah-Terpercaya dan didukung jaringan 4.800 Kantor Pos ditambah 24.500 titik layanan dalam bentuk kantor pos serta 49.000 agen pos, PT Pos optimistis layanan kargo pos akan diminati dan menjadi pilihan utama konsumen.

"Proses bisnis kargo pos ini kami rancang secara efesien sehingga tarif yang dikenakan sangat murah dibandingkan dengan produk sejenis,” kata Barkah.

Selain itu, pihaknya juga memberikan kemudahan kepada pelanggan dengan adanya layanan pick up service dan delivery. Seluruh kiriman kargo pos menggunakan aplikasi sehingga dapat dilacak keberadaannya.

"Sebagai perusahaan milik negara, Pos berkomitmen untuk memenuhi service level agreement dengan menjamin keutuhan, keamanan dan ketepatan tujuan kiriman kargo pos," tambah Barkah.
Layanan kargo pos akan dilakukan uji coba secara bertahap hingga Juli 2018 dengan berat kiriman minimal 30 kg hingga 250 kg, yang dilengkapi dengan layanan pick-up service, packaging dan asuransi.

"Kami akan terus pantau dan evaluasi. Targetnya hingga akhir tahun dapat menjangkau seluruh pulau Jawa. Dua bulan pertama pada tahap awal masih diprioritaskan penyiapan kapasitas operasi dan perluasan jaringan di Jawa," tutup Barkah.

Dengan penetapan berat kiriman minimal 30 kg, layanan kargo pos ritel ini jelas menyasar para pelaku bisnis grosiran. Di lapangan, jenis layanan ini akan bersaing dengan jasa pengiriman yang juga memberikan layanan cargo seperti JNE Trucking, Indah Cargo atau Dakota Cargo.

Yang menjadi tantangan dalam layanan kargo pos ini terletak pada layanan penjemputan (pick up) dan packaging yang diberikan pada konsumen yang akan mengirimkan barang. Sebab dua hal ini bisa merepotkan dan time consuming bagi petugas yang melaksanakan di lapangan, karena membutuhkan persiapan yang matang menyangkut SDM, armada dan kelengkapan sarana. Bisa dibayangkan jika PT Pos benar-benar menetapi janji memberikan layanan paking barang sebesar 30 kg tanpa biaya tambahan.

Selain itu minimal paket sebesar 30 kg juga patut dipertanyakan, karena konsumen yang mengirim barang seberat itu biasanya akan memilih jasa pengiriman yang benar-benar murah meriah, yaitu jasa ekspedisi yang mengenakan tarif per koli, bukan per kg.

Jika perhitungannya masih berdasarkan berat paket, tetap akan terasa mahal. Katakan untuk tujuan Jakarta ke Surabaya dikenakan tarif Rp 6000/kg, berarti biayanya minimal Rp 180 ribu untuk paket 30 kg. Jelas ini memberatkan bagi pengusaha.

Kalaupun berat barang kurang dari 30 kg, maka agar bisa menikmati layanan kargo pos ritel, tarifnya tetap dikenakan untuk 30 kg. Hal ini jelas tidak menarik. Indah Cargo yang sebelumnya juga menerapkan tarif pengiriman minimal 30 kg, saat ini sudah menghapus kebijakan tersebut. Karena tidak banyak konsumen yang mengirim barang seberat itu. Bahkan Indah Cargo secara cerdas sekarang melayani paket ukuran kecil, per kilogram. Jelas karena mereka ingin meraih berkah booming ecommerce yang mayoritas bermain di paket kecil.

Bertolak belakang dengan ambisi PT Pos yang ingin mengambil porsi yang lebih besar dalam bisnis kurir, salah satunya dengan masuk dalam ekosistem marketplace besar seperti Tokopedia dan Bukalapak, namun PT Pos “mengunci” pilihan konsumen pada layanan Paket Kilat Khusus, tidak ada paket pos biasa.

Akibatnya tarifnya kurang bersaing, bahkan seringkali untuk pengiriman antar kabupaten di Pulau Jawa, ongkir Pos lebih mahal dari ongkir swasta. Padahal jika ada opsi paket pos biasa untuk berat minimal paket 2 kg, peluang yang bisa diambil PT Pos sangat besar dari pasar marketplace.   


loading...

- Komentar diluar topik tidak akan ditampilkan.
- Komentar dengan identitas akan lebih dihargai.

Back To Top