Success story Harri Mulyana, Jatuh Bangun Membangun Bisnis Ekspedisi


Kisah Harri Mulayana mendirikan bisnis jasa pengiriman CPA Xpress.
Harri Mulyana, pendiri CPA Xpress (foto : Republika.co.id)
Kisah Harri Mulyana Pendiri CPA Xpress - Peluang bisnis kurir tidak sebatas menjadi agen dari sebuah perusahaan jasa pengiriman, namun bisa juga dengan mendirikan sendiri bisnis tersebut. Tantangan dan kesulitannya tentu lebih besar, Tapi hasilnya sebanding bila berhasil menangkap peluang yang terbentang. Kita bisa belajar dari kisah perjuangan Harri Mulyana dalam merintis usaha jasa pengiriman sebagaimana pernah dimuat Republika.co.id.

Pada akhir 1990-an, Harri Mulyana masih menjadi kepala cabang Bank Duta Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan penghasilan tergolong besar untuk ukuran saat itu. Apalagi, sang istri juga bekerja di bank dengan penghasilan tak jauh berbeda.

Situasi ekonomi sebagai dampak lanjutan krisis ekonomi 1998 telah mengubah garis hidup Harri dan Bank Duta. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) melakukan peleburan sejumlah bank menengah, termasuk Bank Duta ke dalam Bank Danamon. Harri dan istrinya pun memilih pensiun dari kantornya.

Berbekal pesangon kerja di bank, selanjutnya Harri memutuskan berbisnis sendiri pada 2000. Ia kukuh berbisnis meski sejumlah bank besar nasional menawarkannya untuk bergabung.

Bisnis pertama yang dipilih Harri adalah makanan, yakni sop dan satai kambing. Satu warung dengan menyewa ruko di Tasikmalaya dibuka, tepatnya di alun-alun kota. Kebetulan, tidak ada pedagang makanan yang menjual satai kambing di Alun-Alun Tasikmalaya.

Harri mengaku jorjoran membuka usaha satai kambingnya ini. Pertama-tama, datang 20 pembeli per hari. Lama-kelamaan bukannya bertambah, pengunjung ke warung makannya malah berkurang. Dari delapan orang per hari, tinggal empat orang yang berkunjung, dan akhirnya satu-dua orang saja. Empat bulan kemudian, usaha satai kambing ini bangkrut.

"Lalu, saya bisnis baju bayi di Tasik. Saya menjiplak satu toko pakaian bayi di Bandung yang laris," kata Harri.

Ia pun memilih tempat paling strategis di Tasik, yakni di jalan utama. Ternyata, kosong pembelinya dan setahun kemudian usaha ini bangkrut. Harri mengaku kehilangan modal cukup besar dari kebangkrutan ini.

Setahun berikutnya, ia berbisnis penggergajian kayu mahoni. Ini pun tidak berjalan lama. Dalam 10 bulan, bisnis kayu Harri gagal.

Pada 2002, bisnis ekspedisi dimulai. Ia mendirikan perusahaan ekspedisi bernama PT Cipta Pesona Abadi (CPA Xpress). Untuk memodali ini, Harri terpaksa menjual rumah dan tanah-tanahnya di Bandung.

Pada tiga tahun pertama, bisnis ekspedisi ini berjalan lancar meski belum menghasilkan keuntungan. Harri masih harus menyubsidi untuk menutup kerugian usahanya ini.

Pada awalnya, Harri sendiri yang mengantar barang-barang kliennya ke berbagai kota di Jawa Barat. Sebagai mantan bankir yang mengepalai kantor cabang, Harri memahami betul kebutuhan klien-kliennya sehingga terus memberikan pelayanan prima.

Pada tahun kelima usahanya ini, sang istri memberitahukan bahwa tabungan mereka sudah habis. Mereka tidak memiliki uang lagi untuk menutup kebutuhan sehari-hari, sementara anak-anaknya sudah kuliah. Harri mencoba menghibur sang istri untuk tetap tenang dengan menceritakan bahwa tukang becak saja bisa bertahan, apalagi dirinya.

Shalat tahajud dan puasa Senin-Kamis menjadi aktivitas Harri. Gaya hidup semakin diubah, seperti makan di warung makan pinggiran yang murah. Motor menjadi kendaraan utamanya untuk mengantar barang-barang.

Pada tahun keenam, bisnis ekspedisi ini mulai menunjukkan hasil. Tingkat penjualan naik dan keuntungan mulai datang. Untuk pendapatan, dari yang tadinya rata-rata per bulan hanya Rp 20 juta, kemudian naik menjadi Rp 30 juta, pelan-pelan terus naik hingga ratusan juta rupiah. Sejak dua tahun lalu, pendapatan CPA mencapai Rp 700 juta.

Pada 2008, Harri membuka cabang Jakarta. Hal ini berdampak pada kenaikan pendapatan yang kini mencapai Rp 1 miliar per bulan. Karyawan CPA saat ini ada 60 orang dengan aset usaha di atas Rp 3 miliar.

Setahun sebelumnya, Harri mendapat kepercayaan dari sebuah bank dalam jasa ekspedisi. Harri pun menjadi nasabah bank tersebut. Kerja sama dengan bank itu semakin mengangkat kepercayaan diri Harri atas kualitas layanan yang diberikan.

Modal kerja sama ini ia gunakan untuk mencoba melebarkan sayap bisnisnya dengan menggandeng perusahaan-perusahaan besar lainnya. Bahkan, melalui pembinaan dari bank, Harri tidak hanya berhubungan bisnis semata, tetapi juga kegiatan sosial untuk pemberdayaan masyarakat.

Bersama Bank BTPN yang mempunyai program Sahabat Daya yang menawarkan kerjasama kepada seluruh nasabahnya untuk memberdayakan pelaku usaha mikro, Harri menjadi salah satu relawan. Melalui program ini Harri  berbagi ilmu pengetahuan dan berinteraksi langsung dengan para pelaku usaha mikro. Perjalanan jatuh bangun dalam menjalankan usaha, membuat ia terpanggil menjadi relawan karena ingin menyinergikan antara bisnis dan sosial.

Harri mengakui peran sosial yang dia mainkan bersama banknya telah memberikan kepuasan khusus untuk menginspirasi orang lain. "Bagi saya, bisnis 80 persen dan sosial 20 persen. Prinsip ini saya dapatkan dari bank yang membina saya," kata pria kelahiran Bandung pada Juni 1960 ini.

Kini, CPA Xpress siap bersaing di pentas ASEAN menjelang diberlakukannya perdagangan bebas negara-negara Asia Tenggara (MEA) pada 2015. Harri berkeyakinan usaha ekspedisi akan semakin tumbuh dan berkembang dengan makin terbukanya pasar barang dan jasa.

Rumus Sukses Bisnis Harri
Beberapa hal yang harus dilihat dalam usaha ekspedisi, yakni kualitas, harga, dan waktu. Harri Mulyana mengatakan, ketiga hal ini yang harus dijalankan untuk memenangkan persaingan usaha. "Bisnis saya tidak banting harga, tetapi meningkatkan kualitas layanan. Ini bisnis kepercayaan," kata Harri.

Harus menyediakan layanan lengkap. Apa yang diminta konsumen selalu bisa disediakan. Stok barang sudah ada dan pengiriman bisa dilakukan meski dalam skala kecil, terutama ke luar negeri.
Bisnis ekspedisi CPA Xpress, menurut Harri, dalam lima tahun masih merayap. Ia mengatakan, tidak semudah yang dibayangkan. Ada strategi dan ilmu yang harus dijalankan.

Lainnya, Harri mengingatkan para pebisnis untuk jujur dalam berbisnis, fokus, tidak menyakiti orang lain, sabar, jangan menghindar dari masalah, dan pasrah kepada Allah SWT. Terhadap karyawan, kata dia, harus dekat sehingga bisa saling memahami.

Terakhir, Harri mengajak para pebisnis agar baik untuk peduli terhadap sesama. Para pebisnis diminta agar tidak pelit memberikan ilmu dan tips usaha kepada masyarakat lain. Harri merasa senang bisa memberikan motivasi dan berbagi pengalaman usaha.

"Ini yang saya suka dari perbankan yang tidak hanya menyediakan kredit, tetapi juga memberikan bimbingan, arahan, dan bahkan memperluas pasar nasabahnya," kata Harri.

Pelajaran yang bisa didapat dari kisah Harri :
- Sukses dalam bisnis apapun memerlukan keberanian membuat keputusan yang tepat.
- Sukses adalah sebuah proses yang tidak bisa dicapai secara instan, tetapi harus diperjuangkan secara tekun, ulet dan penuh perhitungan.

- Dalam bisnis jasa pengiriman, faktor pelayanan terhadap konsumen sangat penting dalam memenangkan persaingan.
- Antara bisnis dan sosial jika diselaraskan akan menghasilkan kepuasan tersendiri bagi si pelaku. 
Loading...

Labels: Figur, Peluang Usaha

Thanks for reading Success story Harri Mulyana, Jatuh Bangun Membangun Bisnis Ekspedisi. Please share this article.

Share:

0 Komentar untuk "Success story Harri Mulyana, Jatuh Bangun Membangun Bisnis Ekspedisi"

- Komentar diluar topik tidak akan ditampilkan.
- Komentar dengan identitas akan lebih dihargai.